Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Cinta Untuk Areta, Cerita Cinta Terbaper

Baca Kumpulan Cerpen Mama Muda Terbaru 



Cerpen :  Cinta Untuk Areta 


“Mas, di sini!” Areta melambaikan tangan ke arah Arga yang baru saja tiba di kafe, kekasihnya itu basah kuyup, di luar alam tengah memuntahkan air hujan dengan derasnya.

“Maaf sayang aku terlambat, di kantor tadi ada meeting mendadak, sudah lama ya nunggunya?”

“Lumayan, Mas, hot chocolate-ku ini sampai jadi cold chocolate.” Areta berusaha tersenyum manis, bukan sekali ini saja Arga terlambat jika mereka ada janji untuk bertemu, sudah tak terhitung, saking seringnya.

“Duh, sekali lagi maaf ya, Sayang, aku pesan makanan dulu ya, kamu mau makan apa?” Arga menggengam jemari kekasihnya sebagai tanda permintaan maaf.

“Aku gak lapar, Mas saja yang pesan.” Ada berbagai tanya yang ingin Areta utarakan pada lelaki itu, namun ia ragu, bingung harus memulai dari mana.

“Ada apa Sayang? Sepertinya ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiranmu?” Arga urung memesan makanan, padahal perutnya sudah keroncongan, ia tetap menggenggam jemari kekasihnya, berusaha menepis resah yang tergambar jelas di wajah Areta yang menawan itu.



“Mas ... aku ... aku ingin kepastian hubungan kita ke depannya.”

Arga tersentak, ia melepaskan genggaman tangannya, beberapa saat tercipta keheningan diantara mereka, hujan masih turun dengan deras di luar sana.

“Areta ... aku butuh waktu untuk berpikir, suatu saat setelah aku siap, pasti akan aku beri kepastian, sabar ya, Sayang.” Ia mengelus lembut rambut hitam panjang kekasihnya itu.

“Sampai kapan aku menunggu, Mas? Usiaku sudah hampir kepala tiga, aku gak mau main-main lagi, aku butuh pendamping hidup, bukan hanya yang sekedar singgah lalu pergi, orang tuaku sudah sering bertanya, kapan kita nikah, Mas? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?”

“Tidak, Sayang, kita sudah lama kan menjalin kasih, mengapa kamu masih meragu? Aku hanya ....” Suara dering ponsel Arga membuatnya tak melanjutkan bicara. “Sebentar ya Sayang, dari klienku.” Ia beranjak menjauh dari Areta.

“Mas Arga di mana? Jam segini belum pulang, Azzam demam, Mas,” suara seorang perempuan terdengar panik dari seberang sana.

“Apa, sejak kapan dia sakit, tadi pagi baik-baik aja kan? Oke ... oke sebentar lagi aku pulang.”

Sementara itu sepasang bola mata indah milik Areta terus mengamati punggung Arga dengan tatapan curiga dan penuh tanya, namun ia ragu untuk mengutarakannya.

“Sayang, maaf ya, aku harus pulang, klienku minta file data untuk dikirimkan ke emailnya malam ini juga, masalahnya laptopku ada di rumah, besok kita ketemu di sini lagi ya, aku janji gak bakal telat, kamu bisa pulang sendiri kan? Hujannya udah reda kok, minumannya aku yang bayar ya. Kalau ada apa-apa kabari aku, take care, Honey.” Arga membelai lembut pipi Areta, bergegas ia melangkah dengan terburu-buru.

Selalu seperti ini, ditinggal pergi, desahnya, pertemuan demi pertemuan tak pernah memberi jawaban atas pertanyaan Areta, padahal ia hanya butuh kepastian, itu saja. Tiba-tiba sudut matanya jatuh pada dompet kulit coklat yang tergeletak di atas meja.

“Hmm, pasti milik Mas Arga.” Penasaran, Areta mulai membuka dompet itu.

Isinya ada beberapa kartu kredit, SIM, dan KTP. Areta merasa tertarik dengan kartu pengenal sang kekasih, deg, tiba-tiba ada rasa nyeri menyerang dadanya, sesak, pandangan matanya mulai berembun, ia berharap ini mimpi, namun ini kenyataan pahit yang harus dihadapi, di KTP itu terpampang dengan jelas status Arga, kawin.

Jadi selama ini aku berpacaran dengan suami orang, Astagfirullah, selama ini aku dibodohinya, sesalnya, buru-buru ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan whatsapp pada nomor yang sudah sangat dikenalnya.

“Mas, kita putus.” Setelah pesan terkirim, dengan mantap ia tekan blokir. Ia hapus semua foto bersama lelaki itu yang tersimpan di galeri, ia ingin menghapus semua kenangan bersama lelaki itu dan membuang segala yang berhubungan dengannya, sepertinya ini tidak akan mudah, butuh waktu lama untuk bangkit dan sembuh dari luka.

Andai Bisa Hilang Ingatan 


Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia, hapuskan memoriku tentangnya.

Lagu Geisha yang tengah mengalun syahdu di kafe itu kian menyayat batinnya, membuat rinai di matanya jatuh semakin deras.

“Maaf Mbak, kafenya mau tutup.” Suara bass seorang pelayan menyadarkannya dari lamunan.

Dengan langkah gontai, ia beranjak dari kafe itu. Titik-titik air sisa hujan deras perlahan masih menetes. Tiga tahun menjalin hubungan, bukanlah waktu yang singkat. Orang tua Areta pun sudah terlanjur suka dengan sosok Arga. Ia menghela napas, berat, perih luka di hatinya ini, apa yang harus ia jelaskan pada ayah dan ibunya jika nanti mereka bertanya tentang hubungannya dengan Arga?

Ia harus kuat, harus berusaha tegar, apalagi di hadapan kedua orang tuanya, ia anak tunggal yang menjadi satu-satunya tumpuan harapan mereka, ia tak ingin membuat kecewa. Areta harus membuka lembaran baru, menata kembali kepingan hatinya yang porak-poranda, ia harus bisa, walau tak mudah menyembuhkan hati yang tergores luka.





“Areta, dari mana saja jam segini baru pulang?” Sebuah suara milik Ayah mengagetkan Areta yang tengah masuk rumah dengan mengendap-endap. Semua lampu sudah padam, Areta pikir ayahnya sudah tidur. Ia melirik jam dinding, pukul sebelas malam.

“Areta, kok bengong? Arga mana? Dia gak nganterin kamu pulang?”

Nama itu lagi. Areta benar-benar tak mau mendengarnya.

“Areta!” Suara Ayah meninggi satu oktaf.

“Dianterin kok, Yah, cuma dia langsung pulang.” Ateta gelagapan.

“Kamu baik-baik aja kan? Lain kali kalau mau pulang malam, hubungi dulu, Ayah kuatir, tapi kalau sama Arga sih Ayah lega, ya sudah istirahat sana, besok kerja kan?”

Areta mengangguk. Ia bergegas masuk ke kamarnya berusaha menyembunyikan air mata yang hampir saja jatuh di depan ayahnya. Ayah sudah begitu percaya pada Arga, namun nyatanya lelaki itu tak lebih dari seorang pendusta, dan Areta terjebak pesonanya. Entah sudah berapa wanita di luar sana yang masuk perangkapnya. Areta salah satu korbannya. Arga tak ubahnya bagai seekor kumbang yang hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya, Areta kini layaknya setangkai bunga yang layu, madunya tak lagi manis, tertipu oleh pesona sang kumbang.

“Ya Allah, aku mohon, biarkan aku melupakan dia, aku ingin bahagia walau tak bersama dia, aku tak ingin menjadi perusak yang meninggalkan luka di hati perempuan lain.” Tangis Areta pecah, perlahan matanya terpejam, ia berharap esok menemukan cinta baru, tapi masih percayakah ia dengan cinta? Entahlah, cinta hanya membuatnya merasakan sakit dan terluka.

***

“Areta, tunggu, Sayang, kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku gitu aja? Nomor aku diblokir juga, apa yang salah dengan hubungan kita? Apa aku punya salah sama kamu? Coba jelaskan dulu, kita selesaikan baik-baik.” Arga mengejar Areta yang baru saja keluar dari kantornya. Areta menghela napas berat, sosok yang sama sekali tak ingin dijumpai kini hadir di hadapannya.

“Lepaskan, Mas, gak ada yang perlu dijelaskan lagi.” Areta berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Arga.

“Apa maksudmu? Tiga tahun kita bersama dan kamu mau mencampakkan aku begitu saja, Sayang?”

“Mas coba tanya sama diri sendiri, pasti Mas akan tahu jawabannya, yang jelas aku sudah gak bisa bersamamu lagi, Mas, tolong hargai keputusanku.”

“Kamu gak bisa begitu saja mengambil keputusan, tanpa aku tahu apa-apa sedikit pun, Sayang, kalau aku punya salah, aku akan perbaiki, kita mulai lagi dari awal, semuanya belum terlambat, Sayang, aku cinta sama kamu dan aku serius dengan hubungan ini, suatu saat aku akan membawamu ke pelaminan, kita ....”

“Cukup, Mas! Aku gak mau dengar lagi apa pun darimu, simpan saja cintamu itu, jangan berikan padaku, persembahkan saja kepada yang lebih berhak menerimanya.”

“Areta, apa maksudmu? Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

“Mas, tolong, kalau Mas ingin aku bahagia, biarkan kita jalan sendiri-sendiri, lepaskan, Mas.”

Areta meringis menahan sakit, Arga mengendurkan genggamannya. “Sayang bukankah selama ini kita bahagia, aku dan kamu selalu mengukir tawa bersama, apa yang salah?”

“Yang bahagia itu kamu, Mas, bukan aku, yang aku dapatkan dari hubungan ini hanyalah keraguan, penantian yang tak pasti, dan terima kasih aku telah mendapatkan kepastian yang menyesakkan dan membuat luka, selamat Mas, kamu telah berhasil menghancurkan hatiku.” Areta menyerahkan dompet coklat milik Arga dan berlalu pergi, meninggalkan lelaki itu yang diam terpaku dengan berjuta tanya menghunjam di pikirannya.





“Mas, sudah lama? Mukanya kok gak berubah? Dari mulai berangkat sampai pulang tetep gitu,” sapa Alzena saat menyaksikan Arga tengah duduk termenung di sofa.

“Gitu gimana? Tetep ganteng atau malah jelek?”

“Jelek, wajahnya bimoli sih.”

“Hahaha, ada-ada aja, kamu pikir Mas-mu ini minyak goreng apa?”

“Bukan merek minyak goreng, Mas, maksudnya bimoli itu, bibir monyong lima mili, hahaha.”

“Hahaha, kamu bisa aja.”

“Mas gak apa-apa? Akhir-akhir ini seperti sedang banyak pikiran, sampai-sampai gantengnya juga hilang, mau curhat?” Alzena mengamati wajah Arga yang semakin ditekuk, sendu, ada gurat kesedihan terpancar jelas di sana.

“Kamu ini udah kayak Mamah Dedeh aja, hehehe, gak ada apa-apa kok, cuma lagi mikirin kerjaan kantor aja, lagi lumayan numpuk.”

Alzena tahu Arga sedang menyembunyikan sesuatu darinya, Arga bukanlah tipe yang menganggap pekerjaan itu sebagai beban, ada masalah lain yang sedang mengganggu pikiran dan perasaan Arga. Alzena ingin bertanya lebih lanjut, namun ia urungkan, bukan saat yang tepat menanyakan hal yang menyedihkan di kala orang tersebut tengah tampak sangat berduka. Kalau sudah saatnya, Arga pasti cerita, toh selama ini diantara mereka tak pernah ada rahasia.

“Papa ....”

“Eh gantengnya Papa, sudah sembuh demamnya?” Arga menggendong Azzam yang baru saja keluar dari kamarnya, ia meraba dahi anak umur lima tahunan itu.

“Udah, Papa bawa apa buat Azzam?”

“Oh iya, Papa lupa, Azzam mau apa? Kita beli ke depan yuk.”

Azzam mengangguk, ia tampak senang diajak jalan-jalan Papanya.

“Azzam, pakai jaketnya, kan baru sembuh.” Alzena memakaikan jaket parasut biru pada Azzam.

“Jangan lama-lama, Mas, di luar mendung sepertinya mau turun hujan, kuatir dia demam lagi,” tambahnya, kali ini ditujukan pada Arga.

“Iya, gak lama kok, cuma ke minimarket depan, yuk Zam.” Arga menuntun Azzam.

Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri jalanan komplek, sementara itu sepasang mata Alzena terus mengamati mereka dari balik jendela, hingga keduanya tak nampak lagi dari pandangannya. Seketika Alzena merasa sedih, kebahagiaan mereka ternyata belum lengkap.





“Ini Yah, kopimya,.” Bu Harini menyodorkan secangkir kopi tubruk pada suaminya, kemudian pandangannya beralih pada Areta.

“Lho Areta, kamu gak berangkat kerja?”

“Gak, Bu, soalnya gak ada lembur.”

“Tumben santai di rumah, gak malam mingguan sama Arga? Eh ngomong-ngomong, ke mana anak itu? Sudah lama gak main ke sini.” Pak Handoko menyeruput kopinya, pandangan matanya masih terpaku pada surat kabar di tangannya.

Deg, jantungnya berdebar, nama itu lagi, Areta benci mendengarnya.

“Iya, Yah, sudah lama Ibu gak ketemu sama Arga, Ibu jadi kangen leluconnya, kehadiran dia membuat suasana rumah ini jadi hangat, belum jadi aja udah merasa sedekat ini, apalagi kalau sudah nikah sama kamu, Areta. Hubungan kalian baik-baik aja kan?”

“Baik, kok, Bu, mungkin dia lagi sibuk.”

Di luar terdengar suara sebuah sedan yang semakin mendekat. Suara mobil yang sudah sangat dikenal Areta, mau apa lagi dia ke sini? Areta geram.

“Panjang umur tuh anak, baru aja diomongin, akhirnya datang juga, masuk Nak, sini, udah ditunggu sejak lama lho kedatangannya, ada yang kangen.” Pak Handoko menyambut Arga dengan nada senang, matanya mengerling ke arah Areta. Arga mencium takzim punggung tangan kedua calon mertuanya bergantian.

“Bukan aku, Ibu tuh, tadi kan Ibu yang bilang kangen.” Sekilas Arga dan Areta beradu pandang, Areta memalingkan wajahnya, tak ingin berlama-lama menatap sang pendusta dengan wajah polos dan tak tahu malu itu, seolah lelaki itu tak merasa bersalah.

“Kamu itu suka jaim, pura-pura, padahal sedang memendam rindu kan? Tuh sampai timbul jerawat gede-gede gitu, sini duduk, Nak, gimana kabarnya? Areta bilang lagi sibuk ya?” tanya Bu Harini.

“Alhamdulillah, sehat, Bu, maafkan saya yang jarang main ke sini, kerjaan kantor memang sedang lumayan banyak, Yah, Bu, saya mohon izin membawa Areta jalan-jalan.”

“Oh, boleh boleh, silahkan, anak muda kan biasanya malam mingguan.” Ayah Areta tergelak, ia kelihatan bahagia, begitu pun Ibu. Entah bagaimana perubahan sikap mereka jika tahu yang sebenarnya tentang Arga. Walau pun enggan, namun Areta tak mampu menolak, ia tak ingin merusak kebahagiaan kedua orang tuanya.

Tidak berapa lama mereka sudah berada dalam sedan putih milik Arga, sepanjang perjalanan tak ada satu pun yang bersuara, hening, kebisuan dan kecanggungan tercipta diantara mereka.

“Jangan ge-er ya, aku gak menolakmu bukan karena aku ingin kita bersama lagi, ini aku lakukan demi Ayah dan Ibu, camkan itu!” Areta memecah keheningan dengan nada geram.

Kafe Berjuta Kenangan 


Tiga puluh menit kemudian sedan itu berhenti di sebuah kafe, tempat favorit mereka yang telah mengukir berjuta kenangan. Areta menghela napas, kafe inilah yang membuatnya merasakan bahagia sekaligus duka lara.

“Ayo turun, Sayang, ada yang mau aku kenalkan.”

Areta menuruti perintah Arga sebab dihinggapi rasa penasaran, Arga menunjuk pada tempat duduk yang terletak di sudut kafe itu. Ada seorang perempuan yang sedang menyuapi anak laki-laki.

“Mas, ngapain kamu bawa aku ke sini, kamu belum puas membuatku terluka? Sakit ini masih belum sembuh, Mas sekarang sudah menambahnya lagi, tega kamu, Mas!” Areta mulai menangis.

“Areta, apa maksudmu?”

“Itu istri dan anak Mas kan? Mas udah bohongi aku selama ini, Mas bisa menyembunyikan mereka dariku, tapi status KTP-mu yang membuktikan semuanya!”

“Areta, Sayang, dengarkan dulu, aku minta maaf kalau selama ini aku gak jujur, aku hanya takut kamu dan juga keluargamu tak menerima statusku, dengar, Sayang, aku memang sudah menikah, itu Alzena adikku, ayah dan ibu kami sudah meninggal karena kecelakaan, pesawat yang membawa orang tua kami dalam perjalanan dinas Ayah menabrak gunung, badan pesawatnya hancur berkeping-keping, tak ada satu pun yang selamat, termasuk orang tua kami, sebagai yatim piatu, kami harus saling menguatkan, aku tak ingin Alzena putus asa.” Sejenak Arga menghentikan ceritanya, matanya berkaca-kaca.

“Dan anak lelaki itu, Azzam putraku, dialah yang menjadi alasanku untuk menunda-nunda pernikahan kita, maaf Sayang, aku gak bermaksud mempermainkanmu, Azzam butuh waktu untuk menerima sosok pengganti mamanya, dia masih trauma kehilangan mamanya yang meninggal akibat kecelakaan mobil, sekarang terserah kamu, hakmu untuk menentukan, aku sudah berkata yang sesungguhnya.”

“Maafkan aku, Mas, sudah menuduhmu yang bukan-bukan.” Areta menyesali perbuatannya.

“Aku juga minta maaf, Sayang, karena tak jujur dari awal, sudah siap bertemu calon putramu?” Areta mengangguk mantap, berdua mereka menghampiri Azzam dan Alzena.

“Aunty, lihat, pacar Papa cantik ya, mirip barbie.” Kalimat polos yang meluncur dari mulut Azzam membuat Areta tersipu malu. “Tante cantik mau kan jadi mamanya Azzam?” kalimat berikutnya membuat jantung Areta berdebar tak karuan.

Keharuan memenuhi hati Arga mendengar penuturan Azzam, ia tak menyangka anak itu bisa dengan mudah menerima Areta, padahal tadi ia merasa kuatir Azzam akan menolak Areta. Binar bahagia pun terpancar di mata Alzena, kebahagiaan keluarga kecil Arga, kakaknya akan sempurna dengan kehadiran Areta. Begitu pun Areta, kini ia merasa yakin menerima sepenuhnya lelaki yang tiga tahun lamanya telah mengisi hatinya, mantap untuk memulai hidup baru bersama Arga dan juga Azzam.

The End 

Daftar Isi Cerpen 


By, Teh Icus 

Baca Berbagai Cerpen Lainya di Forum Cerpen 

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. 

1 comment for "Cinta Untuk Areta, Cerita Cinta Terbaper "