Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Awal Masuk Sekolah, Bagian 26, Cinta Terlarang Remaja Ini Dosa Siapa?

Baca Novel Remaja  Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa?


Novel Cinta Terlarang- Tiada masa paling indah, kisah kasih disekolah. Cerita saat di Bangku SMA, selalu menghadirkan banyak kenangan dan moment terindah. Langsung saja, cekidot! 

Cerita Cinta Penuh Dosa: Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Awal Masuk Sekolah, Episode 26 


Sembilan  Tahun Kemudian, Jakarta, Awal Masuk Sekolah 

(Cerita Sembilan Tahun Sebelumnya : Alena bercerai dengan Agra dan menganggap Urya kembali pada Eva istri pertamanya. Sementara bagi Eva suaminya mengalami kecelakaan pesawat terbang sembilan belas tahun sebelumnya) 

Pagi belum lagi terik. Mentari masih malu-malu bersembunyi dibalik pucuk-pucuk pohon. Udara masih segar. Pemuda bersorot mata elang membawa kuda besi berwarna hitam metalik melaju pesat di jalan kota menuju sekolahan. Gaya Bowl Cut rambut pada ujung tekstur lembut dan stylish, ia memang sedang tampan.

Kuda besi tipe SUV dengan mesin buatan Jepang itu tidak butuh waktu lama masuk ke halaman sekolahan. Seperti pada umumnya, satu persatu mobil siswa lain menyusul dibelakangnya. Honda CR-V itu ditinggalkan kesepian begitu saja ditempat parkiran. 



Sipakah dia? Adalah cowok jika tersenyum sekali saja membikin banyak cewek tepar kelonjotan tidak berdaya, Raditya namanya.

Pertama kali masuk di bangku SMA, ia sama seperti siswa pada umumnya, hari pertama sekolah adalah hari dimana penuh semangat baru, teman baru dan suasana baru bahkan pacar baru.



Setelah mereka saling sosialisasi untuk mengenal satu sama lain. Di hari-hari sebelumnya ada yang sebagian jadi pacar baru atau sekedar teman tapi mesra dan ada juga menjadi sahabat atau malah bermusuhan berebut pengaruh di sekolahan.

Tujuan ia sekolah oleh mamanya adalah untuk belajar bukan pacaran. Semua itu berubah dan tidak sesuai tujuan saat dia mulai mengenal seorang gadis sinis saat OSPEK.




Sejak kecil dia memang tidak mengenal apa itu kasih sayang seorang ayah hanya mamanya yang selama ini mencurahkan kasih sayang penuh untuk dirinya. Pernah suatu hari Raditya bertanya padanya kenapa mama tidak mau menikah lagi agar punya pendanping hidup? Eva hanya tersenyum dan selalu menghindar. 

Sandang- pangan ataupun materi memanglah Radiya remaja tidak pernah kekurangan. Tentu seharusnya bersyukur, hidupnya terlihat sempurna kecuali tanpa kasih sayang seorang papa.



"Kalau berjalan pakai m4t4!" bentak siswa perempuan berbulu mata lentik itu saat tanpa sengaja terjadi tabrakan di lorong sekolah, menuju kantin. Gadis itu dari ujung kaki hingga rambut memiliki kemiripan denganya.

"Gila loe, emang m4t4 bisa jalan?" Cowok tampan dengan nama yang tertulis dibaju putih Raditya Bagaskara Seruyanyah bertanya balik, sorot matanya mengancam.

Dita jengkel bukan kepalang, harga dirinya seolah dipecundangi. Ia benar-benar marah, menendang dengan kakinya yang terbungkus sepatunya itu. 

Ilustrasi Dita & Raditya


Seribu sayang, tentu saja Raditya sudah sudah siap. Sekali tangkap, kaki  itu tercekal erat tanpa ampun.


“Lepaskan, gak?” jerit Dita, mukanya memerah menalu.
“Emm …” sergah Raditya sambil menarik Dita erat lagi hangat. 

Sangat terpaksa Dita tertatih-tatih sembari menjaga keseimbangan dengan merentangkan kedua tanganya.

Jantungpun bergetar saat tanpa sengaja Raditya seolah terseret dalam sengatan fatamargana halusinasi. Ia bak melihat bidadari khayangan turun dari bumi.

Bidadari jelita, rambut lurus jatuh menjuntai nampak menakjubkan. Apalagi senyumanya, renyah dan berbungah. Sungguh jantung pejantan manapun akan dibuat berantakan dalam detak.

“Awas loe, itu mata jangan jelalatan!” ancam Dita tidak berdaya terus terarik mendekat. Sebagai gadis mendapatkan pandang demikian dari cowok seharusnya marah, tidak lucunya Dita malah menikmatinya. 

Seadainya saja bukan untuk menjaga gengsi, tentu akan berkata, rengkuhlah, ayo kalau berani?

“Awas apa?” tantang Raditnya nyengir kuda, sambil mengelap bibirnya  dengan punggung tangan yang masih bebas dan tanpa ampun terus menarik mendekat.

“Lepasin tidak atau gue akan berteriak?” Dita menjerit, tetapi terlambat. Dua detik, kedua bibir hampir saling bertabrakan jika saja tidak terhalang hidung. Dita terjatuh dalam pelukan Raditya. Waktu seakan berhenti berputar, senyap nikmat. “Sialan, loe,” imbuhnya.

Dita memalingkan wajah, kemudian lari pergi begitu saja dan menganggap peristiwa itu akan berlalu lenyap di telan waktu. Seandinya saja bisa? Lagi-lagi ternyata ia juga justru harus satu ruangan dengan Raditya di kelas X A, kelas favorit dan unggulan.



"Ngapain loe ngikutin gue?" tanya Dita dengan tatapan mata yang melesat seperti kunai senjata ninja. Hatinya tercokol-cokol teramat jenggkel. Kenapa juga harus bertemu cowok tidak jelas seperti Raditya.

"Siapa juga yang ngikutin loe? Gue masih waras."
"Waras? Heloo kalau otak loe beneran waras gak mungkin beraninya cuma ama cewek doang."
"Asal loe tau ya ... Kalau loe bukan cewek udah gue tonjok."
"Tonjok aja kalau berani?"
"Gila nie cewek," balas cowok dengan gaya rambut Bowl Cut itu dongkol lalu pindah duduk di bangku bersebrangan denganya.

Hari-hari berikutnya mereka berdua seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar meski itu hanya hal sepele. Perseteruan itu bukanya berhenti, justru semakin menjadi saat mereka sudah naik kelas dan sialnya lagi, ternyata di kelas XI IPA mereka bertemu lagi juga.

Memang benar adanya selama setahun Raditya hanya fokus pada kegiatan sekolah dan tidak peduli sama sekali dengan para cewek yang mencoba mendekatinya. Bukan tanpa alasan ia menjadi cool dan selalu menghindar dengan namanya kaum betina tersebutkan cewek.

Raditya tidak ingin menyakiti dan mengecewakan perasaan mamanya. Mama yang selama ini melarang ia untuk berpacaran. Apalagi sampai menyakiti hati wanita.

Ilustrasi ; Kanya & Raditya

"Ke kantin yuk," pinta Kanya gadis cantik teman masa kecilnya itu.

"Iya, ayo. Jangan menyendiri aja loe entar kesambet," sahut Rayon dengan menarik tangan Raditya memaksa, "kalau loe kagak ikut.. Kanya kagak mungkin mau. Ayuk!" imbuhnya.

Kanya cewek bermata indah pelangi dengan potongan poni yang menjuntai kesuatu sisi itu sudah lama menjadi incaran Rayon. Berbagai cara sudah dilakukan selalu ditolaknya dan memilih mengejar-ngejar Raditya cowok cool yang selalu mengacuhkan dirinya.

"Emm …," ucap Raditya mengikuti kemauan teman-temanya itu. Saat baru saja akan melangkah keluar dari pintu dalam kelas tanpa sengaja Dita yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temanya tertabak oleh Raditya dan minuman kaleng dingin segar itu membasahi bajunya. 

Tentu saja Dita meradang marah dan membalas kembali dengan menyiramkan air sisa minumnya itu di wajah Raditya.

"Gila loe! Kotor semua ni!" bentak Cowok Cool itu mengelegar seperti petir yang menyambar. Tanganya mengepal dengan mata merah saga seakan siap menerkam.

"Ayo pukul! Pukul saja kalau berani," Dita balik menantang.

"Kalau loe bukan cewek udah pasti sudah gue tonjok tu muka," balasnya dengan gigi gemertak.

Berulang dan berulang seolah seperti dejavu kejadian itu terjadi lagi. Apakah itu konspirasi alam semesta? Pasalnya, saat mata saling menatap seketika emosi itu menghilang entah kemana.

"Apa?" tantang Dita lagi.

Hanya bisa menatap tajam Raditya terdiam seribu bahasa dengan lidah kelu bisu. Getar guratan hatinya terasa teduh dengan rasa sayang yang kuat. Inikah cinta? Tidak ...

Kanya melihat peristiwa semua itu hatinya terasa perih dan sakit. Bukan karena Raditya di siram air minum kaleng atau pertengkaran tikus-kucing. Sejatinya lebih pada tatapan mata mereka yang seolah ada rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Bisa saja mereka pura-pura selalu bertengkar padahal saling cinta," gumam Kanya dalam hati. Kanya segera menyahut menggegam erat tangan Radit ditariknya pergi menjauh.

"Loe gak apa-apa, Dit?" Kanya mencoba mengintrograsi. Raditya bungkam dan pergi begitu saja meninggalkannya menuju toilet pria untuk membersihkan bajunya.

"Gue tau Dit. Loe sebenarnya suka ama, Dita ‘kan?" Kanya menyimpan semua perih sariawan dalam hati. Tanpa terasa tirta bening itu melompat begitu saja membasahi pipinya.



Kanya : Aku sendiri tidak pernah menyangka bisa jatuh sedalam ini, tidak mengira mengenalmu aku terikat. Apa aku bodoh mengejar lelaki yang jelas didepan mata acuh terhadapku? Jangan bertanya, aku menyukainya tanpa alasan. 

Apakah aku kecewa? Sudah pasti, sakit bahkan hanya tidak berdarah. Lebih pahitnya lagi, aku cemburu namun tidak berani bilang. Karena aku bukan siapa-siapa.  Apa yang akan tejadi dengan cinta segitiga Raditya, Dita dan Kanya? 

Next. 

Daftar Isi Novel 



Baca selengkapnya INDEK LINK 

Selamat membaca dan jangan lupa ikuti terus cerita ini yang tayang uptode. Terimakasih. 

3 comments for "Awal Masuk Sekolah, Bagian 26, Cinta Terlarang Remaja Ini Dosa Siapa? "