Aku Harus Menangis atau Tertawa Dalam Hidupku? Cerita Cinta Bikin Baper
Hati ke Hati Cerita Cinta Bikin Baper
Sesak memenuhi mata hingga dada seperti mau meledak. Katakan kamu tidak mencintaiku, lalu aku akan pergi selamanya.
Mengapa hanya membungkam? Kata demi kata tidak jua menderas dari bibirmu. Kamu membiarkanku tenggelam ke dalam kesunyian, menjadi titik di mana aku mulai mempertanyakan segala atas keraguan yang mulai berdetak di dalam dada.
Dulu, aku dan kamu disebut kita begitu yakin bahwa jarak ialah sesuatu yang dapat kita ringkas dengan cinta yang utuh. Bahwa mencinta ialah perjalanan tanpa lelah dan ke sanalah kita menentukan langkah masa depan.
Mengapa kamu meyakinkanku bahwa kita pasti bisa jika akhirnya ternyata aku salah. Sekarang tinggal aku seorang diri yang terus berjuang melipat jarak, sedangkan kamu hanya membeku seakan jarak kini telah menjadi batas tegas di antara.
Mengapa harus dibuat rindu oleh perasaan, dilarang bertemu oleh keadaan, dilarang bersatu oleh kenyataan, terkesan tidak adil apakah itu takdir yang menyebalkan?
Mengapa?
"Bila mencintaimu sebuah kesalahan biarkan aku salah," katamu. "Mencintaimu adalah kerelaanku," kataku tanpa penyesalan.
Kamu berikan aku kenyamanan sekaligus kegelisahan, merasa dicintai juga dikhianati. Apakah aku harus menangis atau tertawa dalam perjalanan hidupku ini?
Perbedaan itu mencipta jurang di hadapan, seakan kini tanganku begitu enggan merengkuhmu tersebab sangat menyakitkan.
Seakan, segala bahagia kita susun bersama perlahan memudar. Runtuh segala tegar dipaksa pura-pura semuanya wajar. Kurang ajar!
Aku terduduk di tepian pantai menunggui senja tiba, berharap kamu masih ada di sampingku menemani. Nyatanya, kini aku hanya seorang mendengar suara ombak yang begitu hebat menelan segala sepi dan sendiri.
Keraguan terus merambati ruang-ruang perasaan, melahirkan sesak-sesak; pun pertanyaan di dalam kepala yang kian penuh.
“Jika memang seperti ini, untuk apa aku bertahan di dalam kesakitan?”
Mauku perpisahan menjadi titik di mana aku harus mulai menapaki langkah yang lebih yakin dan mantap. Tidak terjebak di dalam ketidakpastian yang menikam perasaan bertubi-tubi. Tapi apa? Aku kalah masih saja tidak sanggup tanpamu. Sialan!
Semilir Hembusan Rinduku yang Membeku
Mengertikah kamu, kenapa aku sering memanggil namamu? Itu tersebab aku tengah merindukan kamu, aku titipkan rindu ini dalam desau angin siang, menusuk dingin untuk menyapa.
Bukan untuk menyakitimu, tapi ingin kau merasakan rasa itu. Menyejukkan saat kau gerah, membelai lembut tanpa desah.
Cobalah kau rasakan, adakah rindu menghampirimu? Pohon pun ikut bergoyang tersipu oleh semilirnya bukan? Disitulah kau bertemu rinduku.
Oiya... apa kabarmu? Semoga senyuman itu terus merekah menghiasi wajah manismu.
Kini... bukan hanya lidah dan jariku yang kelu, tapi aksara ini pun ikut juga. Tak sanggup kumerangkai kata indah lagi bila sedang bersamamu. Bukan karena kurang vitamin tapi karena Rasa ini mengambil alih segalanya.
Kamu bisa berpura-pura tentang apapun, tapi tidak dengan Rasa yang didada. Katakan padaku apakah kau juga merindu?
Aku tahu, rasa itu menyiksaku tapi sakitnya berbunga indah. Semerbak harum mewangi, menghiasi taman hati yang pernah mati.
Tahukah kamu? Aku terpaku dalam jerat kalbu, menunggu sapamu untuk menyejukkan anganku.
Mengharu kumengadu, memunajat kepada Rabbku. Semoga Kebersamaan tak cepat berlalu, ingin kuhabiskan sisa napas bersamamu.
Kamu... iya kamu. Aku merindumu.
Aku Merintih Dalam Keheningan
Aku menyukai keheningnan dalam memeluk kedinginan, tersebab hanya itu bisa aku lakukan padamu. Hening tersebab padanya aku menemukan banyak jawaban atas diri kadang sadar tersalah hanya tetap tidak bisa melangkah. Jengah, marah lucunya juga bungah.
Sesak memenuhi mata hingga dada seperti mau meledak. Katakan kamu tidak mencintaiku, lalu aku akan pergi selamanya.
Mengapa hanya membungkam? Kata demi kata tidak jua menderas dari bibirmu. Kamu membiarkanku tenggelam ke dalam kesunyian, menjadi titik di mana aku mulai mempertanyakan segala atas keraguan yang mulai berdetak di dalam dada.
Dulu, aku dan kamu disebut kita begitu yakin bahwa jarak ialah sesuatu yang dapat kita ringkas dengan cinta yang utuh. Bahwa mencinta ialah perjalanan tanpa lelah dan ke sanalah kita menentukan langkah masa depan.
Mengapa kamu meyakinkanku bahwa kita pasti bisa jika akhirnya ternyata aku salah. Sekarang tinggal aku seorang diri yang terus berjuang melipat jarak, sedangkan kamu hanya membeku seakan jarak kini telah menjadi batas tegas di antara.
Mengapa harus dibuat rindu oleh perasaan, dilarang bertemu oleh keadaan, dilarang bersatu oleh kenyataan, terkesan tidak adil apakah itu takdir yang menyebalkan?
Mengapa?
"Bila mencintaimu sebuah kesalahan biarkan aku salah," katamu. "Mencintaimu adalah kerelaanku," kataku tanpa penyesalan.
Kamu berikan aku kenyamanan sekaligus kegelisahan, merasa dicintai juga dikhianati. Apakah aku harus menangis atau tertawa dalam perjalanan hidupku ini?
Perbedaan itu mencipta jurang di hadapan, seakan kini tanganku begitu enggan merengkuhmu tersebab sangat menyakitkan.
Seakan, segala bahagia kita susun bersama perlahan memudar. Runtuh segala tegar dipaksa pura-pura semuanya wajar. Kurang ajar!
Aku terduduk di tepian pantai menunggui senja tiba, berharap kamu masih ada di sampingku menemani. Nyatanya, kini aku hanya seorang mendengar suara ombak yang begitu hebat menelan segala sepi dan sendiri.
Keraguan terus merambati ruang-ruang perasaan, melahirkan sesak-sesak; pun pertanyaan di dalam kepala yang kian penuh.
“Jika memang seperti ini, untuk apa aku bertahan di dalam kesakitan?”
Mauku perpisahan menjadi titik di mana aku harus mulai menapaki langkah yang lebih yakin dan mantap. Tidak terjebak di dalam ketidakpastian yang menikam perasaan bertubi-tubi. Tapi apa? Aku kalah masih saja tidak sanggup tanpamu. Sialan!
Mengertikah kamu, kenapa aku sering memanggil namamu? Itu tersebab aku tengah merindukan kamu, aku titipkan rindu ini dalam desau angin siang, menusuk dingin untuk menyapa.
Bukan untuk menyakitimu, tapi ingin kau merasakan rasa itu. Menyejukkan saat kau gerah, membelai lembut tanpa desah.
Cobalah kau rasakan, adakah rindu menghampirimu? Pohon pun ikut bergoyang tersipu oleh semilirnya bukan? Disitulah kau bertemu rinduku.
Oiya... apa kabarmu? Semoga senyuman itu terus merekah menghiasi wajah manismu.
Kini... bukan hanya lidah dan jariku yang kelu, tapi aksara ini pun ikut juga. Tak sanggup kumerangkai kata indah lagi bila sedang bersamamu. Bukan karena kurang vitamin tapi karena Rasa ini mengambil alih segalanya.
Kamu bisa berpura-pura tentang apapun, tapi tidak dengan Rasa yang didada. Katakan padaku apakah kau juga merindu?
Aku tahu, rasa itu menyiksaku tapi sakitnya berbunga indah. Semerbak harum mewangi, menghiasi taman hati yang pernah mati.
Tahukah kamu? Aku terpaku dalam jerat kalbu, menunggu sapamu untuk menyejukkan anganku.
Mengharu kumengadu, memunajat kepada Rabbku. Semoga Kebersamaan tak cepat berlalu, ingin kuhabiskan sisa napas bersamamu.
Kamu... iya kamu. Aku merindumu.
Aku Merintih Dalam Keheningan
Aku menyukai keheningnan dalam memeluk kedinginan, tersebab hanya itu bisa aku lakukan padamu. Hening tersebab padanya aku menemukan banyak jawaban atas diri kadang sadar tersalah hanya tetap tidak bisa melangkah. Jengah, marah lucunya juga bungah.
Keheningan membawaku dalam pelukan kesunyian, mendekapkan hati memeluk bayangmu dan merapalkan mantra-mantra terindah menyebut namamu. Mengapa ada rasa seperti ini, rasanya sangat nyata hanya tidak bisa memiliki. Mengapa?

Post a Comment for "Aku Harus Menangis atau Tertawa Dalam Hidupku? Cerita Cinta Bikin Baper "
Disclaimer: Semua isi konten baik, teks, gambar dan vidio adalah tanggung jawab author sepenuhnya dan jika ada pihak-pihak yang merasa keberatan/dirugikan silahkan hubungi admin pada disclaimer untuk kami hapus.