Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Konspirasi Sumpah Suci Terlarang, Episode 5, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa?

Baca Novel Online Cinta Terlarang yang Bikin Baper 



Novel Cinta Terlarang-  "Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah dan penderitaan adalah pilihanku sendiri.

Biarlah obat pahit kehidupan kutelan juga agar sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa.

Laksana mentari yang memancarkan sinar kehidupannya ke atas bunga-bunga liar di taman, mewangi yang tumbuh di padang tepi jalan dan aku percaya itulah cinta yang akan kekal selamanya."



Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? I Berlian Tak Tersentuh I Bagian 5



Mentari bersinar lebih panas dari biasanya siang itu. Membakar hati yang kering-kerontang ditelan hampa berkepanjangan. Goen sudah Alena 'putus' seperti permintaan Urya. Menjadi wanita yang sudah gersang dipandang hina bak bunga di tepi jalan, hidupnya seolah tiada arti lagi.

"Untuk semua teman-teman mohon maafkan aku jika ada salah yang disengaja ataupun tidak disengaja, ya.''


Sekuat hati Alena berpamitan pada mereka. Pada teman-teman yang sudah seperti keluarga. Karena tidak mungkin lagi baginya tinggal dan bekerja di Dompu NTB.


"Sama-sama ya, Na!" jawab mereka kecuali Goen. Ia seakan belum rela dengan kepulangannya atau justru mungkin menaruh dendam, hati manusia siapa yang mengerti?

Walaupun terasa sulit bagi Alena melupakan kenangan bersama Urya. Keputusannya untuk menerima pekerjaan baru di Bali sudah bulat. Mungkin dengan begitu semua akan lebih baik atau justru semakin terpuruk?


Selamat Jalan Kenangan  




Taukah kamu, apa yang tersulit itu bukan mengucapkan selamat tinggal? Adalah saat aku untuk membiasakan diri, disaat aku melewati tempat yang dulu pernah ada, pernah ada kamu dan aku, pernah ada kisah cinta kita. Kamu begitu mudah melupakan kita yang dulu pernah ada.

Jejakmu tertinggal pada tempat yang dulu pernah kita singgahi! Masa dimana ada kita dan yang pasti aku sebut itu masa lalu. Setidaknya, kamu pernah bikin aku nyaman, pernah membuatku jatuh cinta, pernah membuatku bahagia.


Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah dan penderitaan adalah pilihanku sendiri.

Biarlah obat pahit kehidupan kutelan juga agar sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa.

Laksana mentari yang memancarkan sinar kehidupannya ke atas bunga-bunga liar di taman, mewangi yang tumbuh di padang tepi jalan dan aku percaya itulah cinta yang akan kekal selamanya.

Kamu ingat?

Kita berjanji akan terusbersama disaksikan ombak kidal pantai Lakey! Tapi apa? Itu semua basi ! Seperti makanan yang sudah kamu diemin berhari-hari. Kamu meninggalkan aku lagi.

Kamu bilang....


Tidak akan pernah ada kata pisah! Kini sebenarnya aku lelah berharap dalam kata-kata yang pada akhirnya tidak seperti yang kamu bilang seperti malam itu. Rasa sakit itu tidak akan pernah kamu tau! Rasa.., rasa kehilangan orang yang selalu membuatmu tersenyum.

Tapi apa?

Sekarang kamu selalu membuatku menangis! Aku ingin tertawa bahagia namun sampai detik ini pun, bibirku belum juga menemukan hari dimana bisa tersenyum lepas bahagia seperti bersamamu.


Ingat Pantai Lakay itu? Tempat dimana kita pertama kali menyatukan cinta, tempat dimana kamu mengecup mesra bibirku, tempat dimana kau membuat aku bahagia untuk pertama kalinya sekaligus marah dan menampar pipimu.


Selamat tinggal Dompu Nusa Tenggara! Selamat tinggal ombak kidal pantai Lakay dimana lautnya yang terhubung langsung dengan Australia."



Alena hari itu pergi meningalkan Nusa Tenggara Barat bersama dengan kenanganya.

Satu Minggu Kemudian


Rembulan baru saja menyapa malam pada pucuk-pucuk pohon dan pura di Pulau Dewata. Sebuah pulau pariwisata yang namanya lebih tersohor dari indonesia. Begitulah kata para turis asing yang melancong ke Bali.


Hari-hari mereka hanya bisa berkomunikasi lewat maya. Alena semakin merasa lebih bahagia. Apakah itu karena keindahan pulau seribu pura atau karena hubungnya dengan Urya semakin menggila?


"Kak, Kangen."
"Iya sayang... Kakak juga."
"Kapan kita bisa bertemu, Kak?"
"Kakak ingin secepat mungkin bertemu, Adek."
"Ah bohong, Adek kesepian di sini. Kak Urya ma enak ada Mbak Va di situ."
"Kok ngomong gitu lagi. Kan sudah belulang kali kukatakan. Kamu hatiku, Na!"
"Ya. "
"Dek."
"Apa?"
"Jangan marah ya, Dek!"
"Iya"
"Janji?"
"Emm."
"Janji dulu, Dek."
"Emm."
"Janji dulu, Dek."
"Janji, Kak. Ngomong tinggal ngomong. Kok ribet amat! Amat aja gak ribet, apalagi nanam tomat."


Setiap bicara lewat smartphone, entah kenapa Alena selalu kesal dengan Urya? Rasanya benar-benar menyebalkan.


"Kakak Sayaaaaaang... banget ama adek. Kapan kita bisa bertemu. Mencium keningmu yang lama banget, sampai hatiku tenang."

Boleh tidak Alena muntah mendengar ketika Urya ngegombal? Lelaki bedebah itu selalu mampu membuat tertawa sekaligus jengkel. Apalagi saat ia mengirimkan prosa-prosa manjanya? Meleleh hatinya sekarat dibuatnya.


Setelah percakapan hari itu Urya mendapat proyek di Kota Manado. Menjadi alasan ia untuk menjauhi Eva dan juga diri Alena. Menurut Urya agar bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.


Adil dari mana? Justru yang terjadi mereka tidak berjumpa. Jujur Alena takut Urya kecantol sama cewek Sulawesi. Kata orang cewek di sana cantik-cantik dan seksi. Benarkah?


Enam bulan kemudian mereka memutuskan untuk bertemu. Urya sengaja membohongi Eva dengan selalu berkata masih berada di Kota Manado. Proyek belum selesai selalu menjadi alasan paling ampuh untuk mengelabuhi istri pertamanya.


Mereka tidak berjumpa di Bali melainkan Surabaya. Alena tidak mau melakukan kesalahan yang sama, dianggap rendah oleh orang lain di tempat kerja seperti di Dompu dulu.

Setelah mendapatkan ijin cutie kerja, ia bisa meluangkan waktu bersama dengan bebas tanpa ganguan untuk meluapkan kangen dengan Urya bedebah.



Setibanya di Surabaya, Alena berjalan mondar-mandir di stasiun 1B Bandara Juanda seperti orang yang sedang bingung. Cemas sekaligus bahagia. Hatinya dag dig dug tidak menentu arah. Entah apa itu namanya?

Pekerjaan yang paling menjenuhkan iyalah menunggu. Apa lagi menunggu kekasih hati? Benar-benar seperti orang tolol.

Secantik dan se-seksi mungkin Alena merias diri, tetap saja seperti ada yang kurang. Hanya tekadnya sudah bulat, Uryalah hidupnya. Satu jam menunggu hingga akhirnya sebuah pesan masuk membuat jantungnya semakin berdetak kencang tidak terkendali.

"Kakak udah nyampai. Adek di mana?"


Sebuah pesan whatsapp masuk. Belum sempat Alena membalas pesan itu terlihat Urya berjalan ke arahnya. Kaki Alena hanya mampu terekat memandangi ketampananya dari kejauhan.


"Sorot matanya yang tajam, hidungnya yang bangir ... Sekali saja, bisakan hentikan kilauanmu itu, Kak?"

Alena mematung seperti terhipnotis cintanya. Hanya memandangi lantai seolah ada yang salah dengan mereka.

"Dek."

Waktu seperti berhenti. Detak jantungnya berdegub kencang. Berlari lalu Alena mehamburkan diri dalam pelukan Urya. Air matanya tidak tertahan lagi, membasahi pipi. Bahagia. Terharu. Entahlah berbagai macam perasaan ada di situ. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya, rasanya damai begitu damai, tentram dan tenang.


"Kak malu di lihat orang," belum sempat Alena menyelesaikan kata-kata, semendadak angin Urya melumat memilin.... ah entahlah Alena tidak sadarkan diri. Begitu lama, begitu dalam. Nikmat.

"Udah, malu dilihat orang, Kak!" rengeknya mendorong Urya. Semuanya ambyar, tidak terkendali.
Logika benar-benar lumpuh, Alena dan Urya memutuskan pergi dari Bandara menuju hotel.

Sepanjang perjalanan, Alena hanya diam saja di dalam taxi. Seperti lengket, mereka  bergandengan tangan erat-erat tanpa bicara sepatah kata'pun hingga akhirnya tiba di hotel.

Setibanya keluar dari taxi dan menyelesaikan semua adminitrasi. Urya membawanya ke kamar hotel sesuai yang dipesan. Aneh bin ajaibnya, Alena sama sekali tidak mampu memberontak, seperti tidak berdaya. Apa yang sudah Urya lakukan?

"Sebelum kita resmi, aku belum siap, Kak," rintih Alena gemetar.

"Sini!" Panggil Urya sambil menariknya." Ngomong apa sih, Dek Na," imbuhnya sembari mencium kening dan membelai mesra rambutnya yang harum aple.

Untuk beberapa saat suasana hening tanpa suara.


"Habis mandi kita cari makan ya? Laper," kata Urya menunjukan perutnya yang sudah mulai protes. Sepertinya cacing-cacing dalam perutnya melakukan demontrasi tersebab sejak dari Manado belum sempat terisi nutrisi.

Setelah Urya mandi dan berganti pakian, mereka memutuskan keluar kamar hotel untuk mencari makan di salah satu cafe terdekat.

Urya dan Alena makan berdua di temani iringan lagu "Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu"~ Band Noah Sesekali Urya menyuapi atau sebaliknya.

"Aku rela menderita seribu tahun menjadi jembatan. Lima ratus tahun kepanasan, lima ratus tahun kehujanan. Asal menjadi jalan untuk di lewati Kak Urya."

Setelah mereka jalan-jalan di Surabaya. Mulai dari pasar Atom, Tunjungan dan tempat lainya. Hingga malam tiba baru pulang ke hotel. Lalu mandi setelah mandi ....

Mereka bersumpah janju di atas kitab suci.

"Aku Surya akan mencintai dan menyayangi serta menerima Alena seumur hidupku baik dalam keadaan susah ataupun senang selama - lamannya,"

Janjinya pada Tuhan dan untuk Alena

"Aku Alena akan mencintai dan menyayangi serta menerima Surya seumur hidupku baik dalam keadaan susah ataupun senang selama-lamannya."

Janjinnya pada Tuhan dan untuk Urya.


"Kita bukan dua melainkan satu. Apa yang di satukan Tuhan tidak boleh di pisahkan."

Janji mereka berdua. Mereka tau itu bukanlah sebuah pernikahan, tapi janji kepada Tuhan adalah suci.


Malam itu Alena dan Urya menyatu dalam satu jiwa, satu raga, satu nafas dalam cinta indah surgawi. Mereka reguk kebebasan bagai tiada hari lagi, tidak perlu waktu lama satu persatu seperti bayi yang baru lahir, bercengkerama bercumbu mesra dengan api gairah yang menyala-nyala.


Musim Semi Asmara di Ujung Timur 


Senyumnya tipis mengembang. Urya terperangah. Apalagi kedua mata bidadari di hadapannya penuh dengan sinar gemilang yang membuat Urya seperti hidup di alam maya, serba memabukkan isi minda. Bunga yang layu di hatinya mekar kembali. Semangatnya muncul kembali. Bidadari ini benar-benar membuat Urya seperti sedang menaiki roller coaster emosi.

"Aku sangat takut, Kak. Apa harus sekarang, Kak?"
"Jika Adek ragu untuk apa membuat janji?"


Urya mencenung, begitu indahnya lukisan maha karya alam semesta. Wow melandai-landai cerah menantang untuk ditaklukkan. Apa itu yang disebut surgawi dunia?


"Bukan begitu, aku hanya belum terbiasa, Kak. Sakit gak?"
"Kamu sudah tau aku sudah berpengalaman, tenang saja. Pelan-pelan, tapi...."
"Tapi apa, Kak. Jangan sekarang bisa?"
"Emm, tidak bisa. Harus sekarang. Tahan ya...."


"Ahhhh.... sakit, Kak." Alena merintih, suaranya memenuhi ruangan dalam kamar hotel, tangannya meremas kain selimut, air matanya tertumpah.

"Baru kali ini aku mencabut bulu hidung yang beruban dari seorang wanita ha ha ha."
"Apa yang Kakak lakukan itu jahat."

Alena mengigit lengan Urya, gemes dan bahagia. Siapa sangka bersama dengan Urya di surabaya dua hari telah dilalui, banyak kejadian memalukan, lucu sekaligus mengasikan.

"Apa sekarang boleh?" Urya mengusap ari mata wanita didepanya dengan lembut. Alena mengiyakan dengan anggukan kecil.


Nada telah dimainkan, inci setiap inci peluh menjadi desah yang indah. Alena hanya bisa pasrah karena pertama kali dalam hidupnya. Berbeda dengan Urya yang sudah punya jam terbang tinggi, dengan penyatuan tarian itu dimulai.


"Apa kamu siap, Dek Na?" Urya mencium kening bermandi peluh. Hening, tanpa jawaban Alena hanya membuka pintu surgawi hinga akhirnya desahan panjang dan bulir bening membasahi pipi.


Mahkota suci terjaga itu akhirnya Alena persembahkan untuk laki-laki yang menjadi hidupnya. Darah suci dari mahkota hawa bunga mawar milik mengalir sebagai bukti janji cinta mereka.

Kain sakral wanita menjadi saksi mengelap darah perjuangan rasa tersimpan rapi dalam laminating yang akan masuk dalam musium abadi.


"Mencintaimu adalah kerelaanku, Kak Urya?"
"Kamu akan selalu dalam hatiku, jika di kehidupan ini kita tidak bisa bersatu, apa kamu akan mencariku di kehidupan yang lain?"

Urya hanya memandangnya lalu tersenyum. Merengkuh cinta ini berarti siap tertusuk-tusuk pisau tajam.


"Apa Mbak Va bisa ninggalin Kak Urya?" Alena menatap tajam. Tangannya dipegang erat olehnya.

"Entahlah, aku tak tau, Dek."
"Jika memang ini sudah nasib, aku rela Kak Urya bahagia dengan Mbak Va."


"Ngomong apa sih, Dek." Begitu cepat Urya langsung menghujani lumatan hingga terlupa segala tanya dalam otak, sisanya kamar awut-awutan mendaki puncak himalaya bekali-kali sampai pagi.


Mereka memutuskan untuk honeymoon ke Flores, terserah kata orang mau bilang apa. Zina? Tapi bagi Alena dan Urya adalah cinta itu suci dan hanya Tuhan yang berhak menilai.


Cinta bersemi di berlian tak tersentuh, Flores. Petualangan cinta yang indah itu di mulai.



Pintu gerbang surga, taman Komodo


Kapal-kapal asing dari berbagai negara bersandar sejajar dengan perahu nelayan, kapal feri yang membawa mereka ke Dermaga Labuan Bajo.

"Kamu suka kesini, Dek?"
"Suka, bagiku selama kita bersama, Adek bahagia?" Alena bersandar di bahu Urya. Menunggu kapal bersandar. Sebenarnya Alena ingin ke Lombok, justru Urya malah memilih ke Flores. Itu bukan honeymoon tapi my trip my adventure.


"Masih pusing, Dek?"
"Ngak. Udah mendingan, Kak." Alena mencebik cemberut. 

Bagaimana tidak mabuk laut? Ombak laut Flores tinggi sekali. Memang air lautnya jernih, menyuguhkan pemandang biota laut beraneka ragam memanjakan bagi siapa saja mata memandang.


Setelah kapal bersandar mereka turun kepelabuhan dan selanjutnya menyewa mobil untuk berkeliling pulau di ujung timur indonesia. Ruteng, kota terdekat dari Labuan Bajo, begitu mengesankan. Dengan mengendarai mobil, ibu kota Kabupaten Manggarai mereka di tempuh sekitar 3 jam.


"Makasih ya, Kak," Alena mecium pipi lelakinya itu.
"Gak pernah lihat orang ganteng ya."
"Ganteng dari Hong Kong."
"Kalau gak ganteng, mana mungkin kamu mau sama aku? Buktinya aku punya dua istri!"

"Iya ya ya ya... Kenapa juga aku mau ma laki yang beristri. Kakak hipnotis aku ya?"

Terus melaju, dalam mobil mereka saling menggoda hingga lupa bahwa ada Eva yang menunggu suaminya pulang.



Sepanjang perjalanan, percakapan mereka berlangsung lancar dan ceria selalu adanya. Tiada sedikit pun kata-kata risau terucapkan. Segalanya cuma berisi kerinduan, kegemasan, impian, kenangan manis, keindahan…. ketakjuban.…


Menghela nafas pelan, Alena metatap mata Urya di dalam mobil. Saling bercumbu-rayu dalam rangka berbulan madu di flores tanpa sepengtahuan Eva yang mungkin sedang risau di rumah dengan mimpi-mimpi pertanda anehnya.

Setiba di Flores, Alena dan Urya juga berskesempatan mengunjungi Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Sebuah kota sangat cantik yang indah seindah bulan madu. Kota ini yang dikelilingi bukit dan pegunungan, membuatnya seolah dalam sebuah mangkuk.


"Maafkan aku, Mbak Va? Kak Urya hari ini adalah milikku."


Sudah tidak ada lagi jalan mundur bagi Alena, segalanya telah ia persembahkan untuk Urya. Tidak peduli apapun yang akan terjadi, musim semi di ujung timur telah dimulai.


Alena diam saja ketika Urya dengan penuh kerinduan melumat bibirnya di dalam mobil. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan lamanya Urya menunggu saat yang mendebarkan.


Segala perasaan Urya sudah tidak terkendali, ia kecup bibir yang merah ranum dan basah itu. Ia hisap lembut dan sayang, ia tumpahkan seluruh kerinduannya di rongga mulut yang harum semerbak mempesona.

Alena memejamkan matanya, mendesah dan mengerang, membiarkan dirinya hanyut dibawa larut oleh gejolak perasaan suaminya. Ia menyerah. Tidak ada lagi yang mampu menahan dirinya, cinta terlarangnya sudah tidak ada lagi jalan pulang.


Alena tanpa Urya hidupnya hampa, gersang dan gundah. Apalagi sejak penyerahan mahkota suci di surabaya, hidupnya berubah total bagai sebuah desa kecil yang lenyap terhapus badai taifun.

Tanpa sepenuhnya sadar, Alena merangkul leher Urya, menariknya lebih dekat lagi ke dadanya.


Kondisi mobil menyebabkan posisi keduanya agak kikuk. Tetapi lalu Alena meraih tombol di samping kursinya dan tidak berapa lama kemudian ia sudah terbaring di sandaran yang rebah.


Urya dengan leluasa bisa melumat bibir Alena yang menggemaskan. Nafas keduanya pun dengan cepat berubah memburu menderu.


“Aaah... Kak,” desah Alena ketika pria itu mengangkat mukanya untuk mengambil nafas,
“Aku kangen banget.…”


Urya tidak membalas ucapannya. Ia langsung melumat lagi bibir yang selalu ada dalam anganya. Tidak hanya bibir yang diserbu, juga ujung hidung Alena, ia ciumi, kelopak matanya ia ciumi, dahinya ia ciumi, kedua pipinya ia ciumi….


Seluruh muka bidadari yang mempesona, Alena istrinya itu tidak hentinya ia ciumi. Alena tertawa manja diperlakukan seperti oleh lelaki yang dicintainya.


Cawan suci Alena sudah menanti untuk dipenuhi oleh air cinta pada musim semi kerinduan keduanya. Mereka tengah dimabuk asmara melintasi sembilan samudra....




Menurut cerita setempat Bajawa berasal dari kata 'ba' yang arinya mangkuk dan Jawa konon diambil dari salah satu pulau jawa. Alkisah pada zaman majapahit banyak orang jawa yang berhijrah pada pulau ini.


Apakah Urya hatinya benar-benar hijrah pada Alena? Ataukah ia hanya tempat liburan cintanya saja? Sebagi istri simpanan, tentu pertanyaan itu selalu muncul dalam minda Alena.


Next. 

Daftar Isi Novel 




Selamat membaca dan jangan lupa bahagia


Post a Comment for "Konspirasi Sumpah Suci Terlarang, Episode 5, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? "