Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Misi Balas Dendam, Bagian 20, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa?

Baca Novel Online Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Episode 20 




Novel Cinta Terlarang- Suami berpaling ke wanita lain,  bisakah istri memaafkan? Seharusnya bisa jika saja wanita bukan musuh wanita lainnya. Demikian lelaki tidak harus sembunyi saat ingin menikah lagi.  Permasalahannya wanita manakah yang tidak cemburu saat cinta lelakinya terbagi? Jawab!

Terlihat lelaki dibalik pintu yang Eva memandangnya saja perut mual, muntah. Muak melihat pengkhianat bang s4 t. Ia masuk kamar yang kini seolah  menjadi neraka jahanam.

Urya berdiri lunglai di depan Eva. Sorot mata sunyi senyap, terlihat jelas gurat senyum kelu membeku pilu. Sementara sekejap membisu tanpa kata-kata.

Antara Dendam dan Rindu 


Eva berharap ada lebih banyak rindu  tertumpah ruah bukan sekedar melihat saja, ia kembali untuk Urya  bukan karena cinta melainkan sebuah dendam membara.

Urya  berdiri berdiri begitu dekat dengan wanita itu, bahkan teramat dekat hingga bau anyir busuk keringatnya menyengat menusuk jantung melululantahkan segala rasa. Rasa yang telah terbina penuh pengorbanan kini telah remuk sia-sia.

Bagi Eva tidak dengan rasa dendam membara yang telah mengkoyak-koyak jiwa terpatri dalam sukma.

Apakah mudah bagi wanita memaafkan pengkhianat cinta meski itu harus mati terkapar bersimbah darah? Tidak!

Darah mendidih mengalir mendesir, ingin rasanya Eva menginjak-injak wajah jahanam yang telah menghuncam hatinya itu.

Hati Eva masih menyimpan rasa yang begitu tipis mudah pecah. Pecah tidak akan kembali lagi, meski bibirnya berkata : Aku memaafkanmu.

Eva menghela nafas dalam dada sesak dengan gigi gemeretak seakan seperti singa kelaparan yang siap memangsa korbanya.

Sebuah keinginan kuat Eva mencakar-cakar wajah Urya, cites sampai mati.

"Dek. Maafin, Mas."

Lirih memelas Urya  memulai pembicaraan.

"Maaf katamu? Tidak Urya, wanita tercipta bukan untuk di sakiti. Apa kamu tau hatiku  sakitnya begitu perih? Bahkan kematianpun tidak akan bisa menyembukan luka hati yang tercipta atas pengkhianatan cintamu.

Tidak! Begitu mudah mulut busuknya mengurai kata-kata minta maaf! Bau busuk mulut comberan pembual itu membuatku muak melihatnya. Sedangkan entah mengapa rasa dendam ini memaksaku membalasnya."

Hening, Eva masih mengunci rapat-rapat bibirnya. Hati wanita itu masih mendidih, bergejolak kapan saja bisa meledak.

"Maafkan aku, Dek."

Sebening tirta jatuh membasahi pipi pria bertubuh jangkung itu. Suaranya tertahan dalam kerongkongan.

"Maaf katamu? Cuiih ... Pergi dari sini sekarang juga!"

Menggelegar, Eva  membentak dengan mata menghunjam.

"Sayang. Beri Mas kesempatan."
"Sayang katamu? Mendengar itu ... telingaku sakit."
"Sayang maafin, Mas."

 Urya  bersimpuh dihadapan memohon maaf pada Eva. Berkali-kali  memelas dengan air mata palsunya atau sekalipun itu air mata darah, Eva masih tetap tidak peduli sama sekali.

Secepat kilat Eva memalingkan muka pada bede bah Urya.

"Pergi dari sini sekarang juga atau aku akan teriak!"

Ancam Eva dengan tubuh gemetar sudah tidak mampu menahan amarahnya lagi. Urya lemas, harapan kembali pada istri pertamanya semakin sulit.

Eva masih mematung, kakinya memaku pada lantai tidak mampu beranjak pergi

"Bagaimana dengan balas dendamku jika Urya pergi? Ah peduli amat, amat aja kagak peduli."

Enam puluh menit kemudian ... mungkin lebih, bumi seolah berhenti berputar pada porosnya. Bendera putih terpaksa Urya angkat tanda kekalahan dan penyesalan.Seketika itu juga, Urya ke luar dari kamar dan langsung menuju ke ruang tamu tengah.
Binar matanya kosong tanda kekalahan ... Sebelum ia sempat duduk di sofa ....

"Siapa suruh di rumahku? Keluar dari sini sekarang juga!"

Sebuah suara melengking memecahkan gendang telinga, Eva berteriak seperti mendatangkan petir. Menggelegar dengan pita suara yang hampir putus.

Laki-laki itu hanya diam lalu pergi begitu saja. Segera Eva mengunci  rumah pemberian keluarga Urya itu.

Eva sangatlah sadar  semua fasilitas yang ada ini adalah milik Urya bukan miliknya. Hanya  keluarga Urya  mempercayakan semuanya pada menantu yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Urya bisa saja tidur di hotel atau di mana saja. Eva tidak peduli, semalaman ia  hanya bisa menangis tergugu dalam kamar . Otaknya  kosong berkabut tidak berdaya. Entah berapa biji obat tidur Eva minum untuk penenang.

Menyambut Pagi Baru



Pagi telah menyapa sinar surya menolehkan cahayanya. Setelah bagun pagi Eva memasak untuk menghilangkan stres. Tentu ia masak untuk dirinya sendiri. Selanjutnya melakukan aktivitas seperti biasanya.

Tanpa berpikir curinga, Eva membuka pintu rumah pagi itu dan ternyata Urya brengsek terlihat  tidur di teras depan menunggu istrinya membuka pintu.

"Siapa suruh di sini? Pergi sana!" bentak Eva dengan mata melotot seperti mau meloncat dari tengkorak kepala.

"Sayang ... Aku mohon maafin Mas. Apapun akan aku lakukan asal Adek mau maafin Mas."
"Tiada maaf bagimu Urya."
"Sayang ...."
"Gak ada sayang-sayangan ..." ucap Eva pergi begitu lari masuk ke kamar. Sepertinya misi balas dendamnya akan berhasil?

Jika Eva menerimanya  begitu saja pasti Urya tidak akan sakit hati. Eva harus memastikan agar Urya benar-benar bertekuk lutut di hadapannya. Baru akan Eva tendang tanpa penyesalan.

Sengaja kamar terbuka,   menunggu apakah Urya mengejarnya  atau tidak? Sengaja pula Eva memakai baju yang seksi agar ia terpesona. Tekad Eva harus hamil sudah bulat.

Demi tujuannya, Eva  rela memakan toge setiap hari dan mengikuti beberapa saran Dokter untuk mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi.

"Sayang maafin Mas," ujar Urya gemetar di depan pintu kamar,  tidak berani masuk.

"Pergi mandi sana! Itu ada makanan sisa tadi aku masak."
''Adek mau maafin Mas?"
"Pergi bilangku! Tuli kamu Urya!" bentaknya lagi. Eva tau berkata kasar pada suami itu dosa dan memang sebelum pengkhianatan cintanya itu, ia tidak pernah seperti berkata kasar.


Entah mengapa hatinya berdebar kencang antara bahagia dan amarah menjadi satu bercampur aduk tidak karuan. Tidak ada air mata yang pantas tertumpah lagi karena sudah kering sebelumnya.

Setelah  Urya selesai makan dan mandi lalu ia kembali menghampiri Eva lagi dalam kamar. Jujur Eva memang sangat merindukanya, karena Urya  memang laki-laki yang berbeda.

Mekipun Urya dari keluarga kaya namun dirinya selalu hidup sederhana dari dulu. Siapa sangka dulu ia membiayai kuliahnya dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Bisa saja Urya minta uang orang tuanya tapi tidak ia memilih berjuang bersamanya.

Andaikan  saja Urya  lebih sabar atau Eva cepat bisa memberinya keturunan mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tapi siapa yang menentukan takdir itu? Walaupun begitu bukan berarti bisa mengkhianati Eva tanpa perasaan.

Semua kenangan satu persatu nampak dalam otak seperti visual yang sangat jelas. Susah senang mereka  lalui bersama-sama dengan penuh cinta. Ya Cinta yang akhirnya menorehkan luka yang hampir membunuhnya .


"Dek Va," panggilnya mesra.
"Apa?"
"Dek?"
"Apa? Dak dek dak dek gak jelas. Jangan harap aku mau maafin kamu ya Urya."

Laki-laki yang kini tidak lebih baunya anyir dan busuk itu mencoba mendekat. Sebelum ia menyentuhnya, Eva segera beranjak pergi.

"Udah kamu istirahat saja gak usah macam-macam," ujarnya lalu mengunci pintu kamar agar Urya tidak ke luar.

Segera Eva mencari di mana gadgetnya ia simpan, mungkin di tempat biasa mengecast.

Ternyata benar seperti  dugaan hatinya. Eva segera mengambil  gadget dengan tangan gemetar. Wanita brengsek itu harus di beri pelajaran. Berani-beraninya dia menghancurkan kehidupan rumah tangga yang telah Eva perjuangkan selama ini.

Satu persatu Eva telusuri nama di layar tauchscreen untuk mencari nomer kontak milik wanita sialan itu. Entah kebetulan atau apa, benda persegi empat itu berdering tanda sebuah panggilan masuk.

Darah Eva mendidih hingga ke otak melihat foto mesra wanita dengan lelaki yang sama sekali tidak asing baginya. Tanpa ba bi bu ba telepon itu segera ia angkat.

"Gimana mbak Va udah maafin kakak belum?" Suara wanita brengsek dari sebrang.
Eva mencoba untuk memastikan apa itu Alena  atau tidak ? Sementara Eva hanya menahan dengan diam.

"Kak Urya!" panggilnya Alena lagi.  Apa yang akan terjadi? Next.

Daftar Isi Novel 


Baca Part 1- 50 


Post a Comment for "Misi Balas Dendam, Bagian 20, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? "