Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Sunyi Gelap Malam, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Episode 48

Baca Novel Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Episode 48, Sunyi Gelap Malam 



Novel Cinta Terlarang- Eva terbangun melihat sekeliling. Ia melihat jam dinding pukul dua pagi. Waktu seakan putar lambat, seakan  tidak ada yang berubah sama sekali.

Eva mengamati foto suaminya dengan frame kayu motif klasik yang tergantung di dinding. Rasa bersalah dan benci bertarung dalam minda. 

"Seandainya aku dulu merelakan kamu menikah lagi, mungkin kejadiannya tidak seperti ini, Mas."

Eva merasa bersalah tersebab memaksa suaminya untuk melakukan kebohongan. Ia menyadari suaminya sulit dipuaskan oleh satu wanita. 

"Tidak! Aku wanita yang punya hati dan juga perasaan. Aku belum sanggup dimadu. Mas tau itu 'kan?"

Eva merasa marah dan dendam pada Alena yang telah merenggut kebahagiaan dan menghancurkan pernikahannya. Ia tidak mengerti kenapa Alena seorang gadis single harus jatuh cinta dengan pria beristri.

"Aku yang salah? Seharusnya aku dulu menerima cinta Taufik yang selalu ada dan mencintaiku. Bukan menikah denganmu karena uang."

Ibu muda beranak satu itu bergerak duduk dan merasakan nyeri diseluruh tubuhnya. Dengan perlahan mengumpulkan tenaga untuk bangkit. 

"Ahh tidak! Setelah aku menjadi istrimu aku benar-benar jatuh cinta padamu, Mas. Jika aku tidak cinta harusnya kita bercerai saat Mas ketahuan dengan Alena. Kenyataannya aku tidak bisa meninggalkanmu. Mas tau itu 'kan?"

Ruangan kamar itu membawa ingatan Eva kembali saat masih bersama suaminya. Waktu ia benar-benar jatuh cinta pada suaminya bukan karena harta, hari itu....

Kesunyian Masa Lalu dalam Gelap

Eva masih mematung di depan cermin setelah selesai mandi. Setelah mengetahui penghiatan suaminya dan tidak bercerai, ia menyadari bahwa hatinya seutuhnya untuk suaminya. 

Saat hati sudah cinta, apapun yang nampak adalah keindahan. Eva memakai baju piama masuk ke walk in closed. Meraih kamisol merah muda yang terlihat aduhai dan memakainya. Memercikan velvet orchid di setiap sisi leher jenjang dan pergelangan tangannya. 

Eva tersenyum tersenyum di cermin dan berjalan keluar ke kamar menuju ranjang. Urya semendadak angin menoleh saat mencium harum percampuran cirtus dan vanila yang menyelimuti bidadari surganya. 

Senyum kemenangan, Urya siap menerkam bidadari bumi itu yang jalan gemulai mendekatinya. Ia merubah posisinya untuk  duduk di sisi ranjang dan mengulurkan tangan menyambut istri tercinta. 

"Iman sih kuat, imron porak-poranda melihat bidadari seperti kamu ini, Sayang." Goda Urya melemparkan pujian.

Betapa ayu wajah Eva merona oleh sanjungan suaminya. Malam ini ia memutuskan untuk membuat Urya bertekuk-lutut padanya.  Eva memutuskan merebut kembali suaminya. 

Belaian mesra jemari Urya membuat Eva bergidik gemetar, ciuman hangat membuat kepalanya pening bukan kunang-kunang. 

Api surga telah menyala, membakar tubuhnya. Lekukan badaninya mematik debar dada Urya hingga ingin merobek kamisol aduhai yang dikenakannya. 

Perlahan jemari Urya meremas lembut, kemudian tarian berubah menjadi liar.

"Ahhh...., Mas....."

Eva tersentak dan ingatannya kembali pada masa kini. Urya telah pergi untuk selamanya,  semua hanya berakhir kenangan saja.

Sebuah bunyi telepon terdengar  berdering panggilan memanggil, Eva segera memanggil hapenya di atas nakas. Siapa pagi-pagi seperti ini sudah ada yang mengganggu. 

"Malam, Bu. Maaf mengganggu," kata seseorang diseberang telepon. 

"Kenapa pagi-pagi gini kamu hubungi saya, Lubis? Masalah kantor bicarakan saja di kantor."

"Ya maaf, Bu Eva. Saya menemukan beberapa laporan ada yang tidak beres. Karena itu saya langsung menghubungi, Ibu."

Pepatah menyebutkan bekerjalah seperti orang jawa dan cerdaslah seperti orang batak. Lubis usianya masih muda, belum menikah dan sedang berkarier di jakarta. 

Kedekatannya  antara Bos dan Kariawan membuatnya memberikan prioritas lebih pada Eva. Terlebih Eva yang masih pemain baru membutuhkan orang yang bisa diandalkan untuk menjalankan perusahaannya. 

"Ya katakan saja garis besarnya. Lebih detail besok diskusikan di kantor."

"Ada dua laporan yang menurut saya janggal. Pertama pengadaan barang di Depkeu dan aliran dana cabang Bandung."

"Langsung... semua itu bisa dibahas saat meeting 'kan?"

"Siap, Bu... Ibu Eva jam segini kok belum tidur? Ya sudah good nice dream, selamat pagi." Lubis mematikan penggilingan teleponya.

Eva sejujurnya tau apa tujuan lubis menghubunginya. Ia juga merasa senang atas semua perhatian dan kerja keras pria asal sumatera tersebut. 

Apakah Eva membuka pintu hatinya untuk pria lain? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Satu hal yang pasti, hidupnya kini untuk Raditya putra satu-satunya. 

Panti Asuhan dan Senja Membalut Dada 

Tepat hari minggu sepulang kerja, Eva menghela nafas memenuhi rongga kosong dalam dada. Matanya jauh memandang lukisan senja bergerak dari dalam mobil yang sebentar lagi tiba di panti asuhan. Siluet cahaya  kuning keemasan menghiasi langit. 

Panti asuhan itulah tempat suaminya sering dikunjungi. Dari tempat itu Urya dulu belajar untuk bisa tidur dengan nyaman.

Suaminya dulu berkata," Lihat anak-anak itu, tinggal di kamar sempit, tidak ada AC dan ruangan pengap. Mereka masih bisa tidur. Sementara kita yang memiliki kamar luas dengan fasilitas dan kenyamanan justru sulit untuk sekedar tidur."

Bercucuran air mata membasahi pipi dan hati kering-kerontang. Eva menangis merasa menjadi manusia kurang bersyukur. Dadanya terasa sesak.

Setidaknya Raditya masih punya dirinya dan keluarga yang selalu memberikan kasih sayang. Bukan tidak memahami, tetap saja putranya tanpa seorang ayah rasanya berbeda. 

"Kenapa ibu menangis?" 

Eva menoleh pada pria muda orang kepercayaannya di kantor. Lubis yang menyetir mobilnya saat ini. Entah berapa lama mobil hitam itu berhenti di depan panti.

"Jangan panggil ibu. Panggil saja Eva. Saat ini kita tidak sedang di kantor."

"Ehh... iya, Kak. Ehh.. Eva," balas pria muda itu gugub. Rasanya aneh memanggil bos besar dengan namanya saja.

Terlihat wajah Lubis berseri bahagia. Ada perasaan aneh walaupun itu terlihat seperti kurang sopan. 

Segera Eva turun dari mobil berjalan menghampiri seorang bocah yang sedang menimang bayi perempuan mungil. 

"Imut dan cantik sekali. Siapa itu, Za?" Eva duduk disebelah putra angkatnya. Ya Reza sudah dianggap anak sendiri oleh Urya sebelum pergi ke Kalimantan. 

"Adiku, Ma. Namanya Kanya. Cantik seperti Mama 'kan?" Bayi perempuan mungil itu mengalami nasib seperti Reza. 

Sejak bayi ditinggalkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Perasaan senasib dan seperjuangan itu yang membuat Reza menganggap penghuni baru panti itu sebagai adiknya sendiri. 

"Bagaimana jika kamu dan adekmu ikut Mama tinggal di rumah bersama Raditya?"

"Terimakasih, Ma. Mama dan Papa adalah orang yang sangat baik dan berjasa pada kami. Tapi aku tidak bisa meninggalkan panti ini. Karena semua orang dipanti ini keluarga Reza, termasuk Mama dan Papa."

"Ya udah, jika ada apa-apa langsung kabarin saja Mama. Tapi ingat jangan lupa sekolahmu. Setelah kamu dewasa dan lulus Sarjana pintu perusahaan Mama selalu terbuka untukmu, Za."

Sebening tirta melompat membasahi pipi bocah yang masih duduk di bangku SMP itu. Saat dunia banyak orang tidak peduli, adanya Eva dan Urya menjadi orang tua angkat membuatnya bersyukur. 

"Tolong carikan aku Beby Sitter untuk mengasuh bayi ini disini ya, Lubis," perintah Eva pada orang kepercayaannya itu.

"Baik, Va. Siap laksanakan." Lubis semakin kagum pada Bos Besarannya itu. Cantik, energik, keibuan dan baik hati. Apakah janda selalu didepan? 

Benarkah itu sebuah kebaikan Eva atau ada sesuatu yang lain? Bagi Eva sebenarnya Reza adalah warisan berharga dari Urya. Menemui dan dekat pada bocah itu merupakan caranya mengurangi sedikit rindu pada suaminya. 

Apakah Eva bisa menerima pria lain sebagai ayahnya Raditya atau justru tenggelam dalam rindu tidak berkesudahan pada Urya? Sejatinya ini adalah pertarungan dirinya sendiri untuk Eva kembali bisa hidup berakhir dengan bahagia, sekalipun itu tanpa pria tercinta. 


Pulang : Antara Gelap Malam dan Impian 


Mobil bertenaga kuda memasuki halaman parkiran. Udara kota Bandung sudah tidak lagi terlalu dingin saat Bayu dan Angela tiba di rumah. 

Mereka keduanya  masih terbawa suasana honeymoon dari Bunaken. Sementara di rumah ada yang sangat merindukannya. 


"Lia sayang Papa pulang, Nak."

Bayu memandangi wajah lembut Lea dalam timangan,  entah sudah berapa kali ia menciumi pipinya yang memerah gemesin. Sementara Angela masih sibuk bercengkerama dengan Gina di atas ranjang, bag koper terbuka dengan isi oleh-oleh dari Manado berantakan di sana.

"Jangan sama papa terus, mama juga kangen, Lea cantik. Sini Bang, biar si mungil aku gendong," pinta Angela memaksa. Karena Bayu masih kangen sama putrinya,  tentu tidak ia menolak.

Seandainya setiap istri di dunia ini seperti Angela yang selalu menjadi Magister Kama Sutra di atas ranjang maka tempat-tempat lembah malam  akan banyak yang tutup karena para suami pada betah tinggal di rumah.

Seandainya setiap istri di dunia ini seperti Gina yang dengan tulus menerima suaminya menikah lagi maka kantor-kantor pengadilan agama akan sepi kasus perceraian dan sibuk melayani pernikahan.

Oh Tidak... Hinga detik ini aku masih dihantui rasa bersalah pada Eva yang selamanya menjadi jiwaku. Sakit hati ini belum juga sembuh akibat pengkhianatan Alena yang menderaku selama ini. Keluh Bayu dalam hati. 

"Sini Bang. Lea malam ini bersamaku. Gina juga kangen sama Abang tuh," bisik Angela mencebik imbuhnya.

"Apaan sih? Aku dengar lo, Angel!" Sahut Gina berjalan mendekat malu. Semenjak Gina melahirkan hingga kini memang Bayu belum memberinya nafkah batin.

Andai saja waktu itu aku tidak bertemu Alena mungkin Eva tidak harus menderita kesepian dan terluka. Tidak lucunya, akibat pertemuanku dengan Alena yang penuh luka ternyata justru menyelamatkan Gina dan Angela dari dunia lembah hitam. 

Ya kalau saja Alena tidak menikah lagi dengan laki-laki lain maka tidak mungkin aku bertemu Celine yang ternyata bernama Gina. Manusia memang hanya bisa berencana sedang takdir selalu berkata berbeda. Batin Bayu lagi dalam hati. 

Siapa yang pernah menang berdebat dengan wanita? Bayu memberikan Lea pada Angela dengan sedikit menatapnya. Bayu  harus membiasakan diri  bisa menghadapi dua mahkluk cerewet bin bawel dalam hidupnya ke depan.

Kegelapan Ranting yang Bercabang


 "Madunya udah aku siapkan tu, Bang!" tunjuk Angela pada botol madu di atas meja.
Sengaja madu alami itu Bayu pesan dari Nusa Tenggara Barat, di mana madu itu hanya di panen pada bulan tertentu setiap tahun. Gina yang mendengar semua itu hanya tersenyum malu.

"Kalau Aa Bayu capek, istirahat aja gi," pintanya lembut.

"Maafin Aa ya, Neng."

"Kenapa Aa minta maaf?" Setelah Bayu duduk di atas ranjang, Gina meletakan ke palanya di pangkuannya. "Aa gak salah kok. Jadi Neng minta jangan ngomong seperti itu lagi," imbuhnya.

Dulu Bayu saat menjadi Urya pernah berkata pada Eva; Bukankah memiliki dua istri pekerjaan akan menjadi ringan? Satunya masak di dapur sedang yang lain bersih-bersih rumah. Maksudnya bukan menjadi pembantu namun gotong royong dalam rumah tangga.

"Makasih ya, Neng," balas Bayu seraya membelai rambutnya.

Kota Bandung memang terkenal penghasil wanita cantik. Bayu selalu terkesima saat memandangi wajah cantik istrinya. Apalagi setelah melahirkan, wajah Gina nampak bersinar meski tanpa make up.

"Sekarang Neng sudah merasa tenang. Jika suatu saat Neng pergi sudah ada yang menjaga Aa dan Lea," ucap bibir mungil Gina dengan tatapan nanar berkaca. Waktu seoalah terhenti, entah mengapa Bayu merasakan perih dalam dada.

"Itu gak lucu! Aa gak suka Neng ngomong seperti itu. Pasti Neng akan sembuh." Sesuatu panas melesak keluar membanjiri wajahnya.

"Jadi Aa sudah tau semuanya?" Gina terhenyak kemudian duduk menatap lekat Bayu mengintrogasi. Bayu hanya membalasnya dengan anggukan saja. "Aa tau penyaki Neng?" imbuh tanyanya lagi sendu-sedan.

Terlihat jelas Gina gemetar menggigil tubuhnya, bukan karena dinginnya suhu Kota Konfrensi Asia-Afrika pertama itu melainkan perasaaan mengganjal dalam dada.

"Aa akan melakukan segalanya untuk kesembuhan Neng. Angela juga sudah tau dari awal."

"Tapi Aa..." Sebelum Gina menyelesaikan kata-katanya, tergesa Bayu menumpahkan kerinduan yang tidak terbendung lagi.


Jerit kepedihan dalam jiwa telah berganti derit ranjang. Gina hanyut dalam aliran permainan melenakan, ia sudah sangat merindukannya.

"Minum dulu madunya, Aa," pinta Gina menggoda

"Sudah dari tadi, Neng." Bayu memeluknya erat.

Jujur sebenarnya aku sangat takut untuk kehilangan Gina, wanita yang telah memberikan segalanya untuk hidupku  bahagia. Satu jam saja aku bisa mencintainya seumur hidup sedang melupakannya memerlukan waktu seumur hidup.

Malam itu seolah terdengar alunan Saat Terakhir-ST12 mengiringi kebersamaanku dengan Gina. Seperti Kota Bandung yang menjadi simbol kota perjuangan maka aku akan berjuang dengan segenap jiwa raga untuk kesembuhannya. Batin Bayu dalam hati.


"Aa gak bosen ama Neng 'kan?" Gina menunjukan sembulan lemak pada perutnya. Perut yang telah menjaga malaikat kecil selama sembilan bulan sepuluh hari.

"Bosen kalau 'Neng Geulis' ngomong seperti itu terus." Bayu memgulingkan tubuhnya untuk berada di bawah dan Gina di atasnya.


"Sebentar lagi bulan suci ramadhan, Aa bisa meluapkan semuanya sekarang. Aku malas mandi malam, dingin Aa."


"Iya gitu, Neng. Kan masih ada...."


"Angela gitu maksutnya. Iya betul, tapi Aa Bayu harus ingat. Angela itu baru jadi mualaf. Jangan ajarin gitiuan mulu atuh, Aa."


"Maksutnya ada air hangat untuk mandi, Neng. Idih Neng cemburu? Kalo gitu Aa hukum ya."


"Jahat amat ma istrinya suka kasih hukuman. Ya udah hukum Neng sampai tepar atuh."

"Lucu ya, baru kali ini ada istri minta dihukum dengan bahagia."


Tawa manja pecah pada keduanya. Sebentar saja kain-kain terbang melayang berjatuhan di atas lantai. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Gina Aulia, bisakah ia menang melawan penyakitnya? Next

Daftar Isi Novel Cinta Terlarang 


Indeks link:  


(On Going) 


(On Going) 

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih.


< Sebelumnya > < Selanjutnya >

2 comments for "Sunyi Gelap Malam, Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Episode 48"