Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Terjebak Kenangan Janda Muda, Episode 5

Cerbung Menggenggam Bara Neraka , Terjebak Kenangan Janda Muda, Episode 5



Cerbung Romantis-  Tepat saat kenyataan pahit tertuturkan merupakan sebuah kebenaran, maka kebenaran itu akan menyingkap dirinya sendiri dengan bunyi yang lebih bening dan dalam aksara akrab menyakitkan dalam pikiran.


Hari itu, ia sejujurnya ragu membagi kisahnya, kisah dari hati yang terluka dan terbuang dipersimpangan jalan. Perempuan itu benar-benar trauma, bahkan saat bibir mungilnya mengurai kata-kata tanpa terasa sebening tirta jatuh bertubi-tubi membasahi pipi.


Satu kebodohan kecil yang ia lakukan, memaksa karirnya jatuh hancur berantakan. Terpuruk, tidak punya pekerjaan, bahkan lebih mengenaskan, ia sulit mendapat pendamping hidup.


Anggapan masyarakat akan dosa masa lalu yang ia lakukan, seolah tersemat abadi dalam namanya Adakah keadilan di dunia ini? Sebagai sesama wanita, bukankah seharusnya memiliki hak yang sama? Jawab.

Jangan hanya pandai nyinyir menyalahkan orang lain! Dalam batin kau menjerit bertanya; Katakan padaku, istri mana di dunia ini yang tidak pelakor? Sedangkan suami adalah anak lelaki yang terebut dari ibunya.

Demi api yang membakar jiwa-jiwa pendosa, inilah neraka yang tidak dirindukan. Mereka bilang, wanita perebut lelaki orang menjadi ladang diskriminasi oleh topeng bermuka dua, kisah klise abadi sepanjang zaman.

Gelap baru saja meninggalkan malam menyapa pagi. Di sebuah ruangan kamar tubuh seorang wanita nampak terbungkus selimut putih dan tergolek di atas ranjang. Dari ekspresi wajahnya terlihat ia masih terlelap dalam tidurnya yang damai. Sedangkan di luar sana sang mentari sudah berganti tugas dengan sang rembulan.

Ranjang tempat ia tergolek di atasnya terlihat rapi, seperai putih masih menutup kasur seperti hari biasanya. Beku dan sunyi.


Siapakah wanita di atas ranjang itu? Adalah bernama Tamara, berdarah jawa yang lahir dan besar di malaysia. Terlihat lebih muda dari usia aslinya, cantik dan tubuhnya yang proporsional memancarkan keanggunan dan feminimisne.




Dering rington suara ponsel memenuhi seisi ruangan kamar. Bahkan suara ringtone yang merupakan salah satu lagu dari salah satu band papan atas tersebut sudah lama terdengar. Namun beberapa menit kemudian baru mampu membangkitkan kesadaran Tamara dari tidurnya.

Tamara segera bangun, kemudian dilanjutkan dengan ritual mandi dan aktifitas wanita seperti biasanya yang dilanjutkan beganti baju, sarapan dan duduk manis di ruang tengah.

Tamara geram pesakitan, menyaksikan berita viral di TV tentang ketidak adilan terhadap wanita. Tanganya mengepal memukul meja dengan amarah tidak jelas.

Gigi gemertak, mulutnya terkunci, ingatan tentang berita viral 'wanita tersesat jalan pulang' membawanya kembali pada saat ia berusia dua puluh tahun. Di usia itu ia remaja cantik jelita bunga desa rebutan pemuda.

Alis jajar memanis, dengan bola mata lentik menggelitik, bibir merekah bak strabery yang baru saja di panen dari kebun. Masam cemokot memaksa siapapun lelaki memandangnya pasti meneteskan jelijihnya berkali-kali. Jangankan manusia? Iblispun terperdaya akan kecantikanya.

"Delapan puluh juta? Itu terlalu murah untuk harga diri wanita."

Ucapan konyol viral di dunia maya itu menghantui pikrannya. Tamara menghela nafas, beranjak berdiri pergi begitu saja menuju kamar.

Sesampainya dalam kamar, segera ia bantingkan tubuh body meliuk gitar spanyol itu di atas ranjang. Jemarinya mulai menari manja di atas layar kaca benda persegi empat miliknya.

"Selalu gak ada waktu untukku ya?"

Tamara bertambah geram, chat yang paling ditunggu ternyata tidak ada masuk.

"Maaf sayang, ada Ahya. Kalau udah aman, aku hubungin kamu deh."

Terlihat balasan chat dari lelaki bernama Dirandra itu membuat Tamara semakin jengkel. Ia benar-benar 'PMS : Perih Menanti Sentuhannya'.


Kenangan Tamara dan Dirandra



Bagaimana mungkin Tamara bisa mencintai Dirandra? Hanya kebodohannya yang membuat wanita rela menjadi 'simpanan.' Hanya posisi Dirandra itu dihatinya sulit digantikan oleh pria manapun juga.


Dirandra, penulis Tomat: kadang tobat kadang kumat, seorang kontraktor interior itu telah membuat Tamara menyerahkan segalanya. Meskipun cintanya digantung mengenaskan seperti jemuran sejak kenal beberapa tahun lalu di salah satu komunitas menulis di media sosial terbesar indonesia, Tamara membiarkan Dirandra mengisi hari-harinya sampai saat ini.


Dirandra, pria bermata elang, berhidung bangir itu usianya memang lebih muda darinya. Dirandra yang selalu membuat Tamara tertawa dengan quotes-quores gajenya, Dirandra yang membuat Tamara tersipu malu dengan prosa-prosa baper dalam setiap tulisannya. Dirandra yang selalu bisa membuat Tamara sekarat dengan rayun cupid gombal 'mukidinya'.


"Ah, Dirandra, tidakah kamu lihat aku berhijrah karena kutahu kamu tertarik wanita bercadar? Sosok Mentari yang lebih dahulu berniqop membutku cemburu.


Maafkan aku pendosa dengan masa lalu kelam yang selalu berharap mendapatkan cintamu. Aku cemburu dengan Mentari yang selalu nempel seperti perangko denganmu.


Kamu bisa mengerti itu 'kan? Toh, aku suatu saat nanti juga bisa bercadar seperti Mentari.

Lihatlah aku, sekali saja lihatlah . Begitu bodohnya, aku tidak sanggup melupakanmu. Bahkan aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan jalan-jalan Indonesia-malaysia agar sedikit bisa menjauhimu.

Aku selalu merindukanmu dan merindukanmu, Dirandra ...."

Tamara lebih pada bicara sendiri. Sesuatu yang tidak lucu sama sekali dan terjadi, Ia seharusnya cemburu dengan Ahya bukan Mentari.

Mungkin Ahya istri pertama Dirandra yang lebih dulu menemani membuat Tamara tidak terbakar cemburu.

Tamara terus memandang halaman luar lewat jendela kamarnya. Halaman menggambarkan tempat dan kembang setaman. Demikian warna-warni keindahan tetaplah taman, saat bunga itu gugur, siapa yang peduli?


Tamara mengeluh dalam hati. Ia belum bisa percaya harus jatuh cinta lagi dengan lelaki berpunya dengan usia lebih muda darinya.


"Aku juga mencintaimu. Usia bukan alasan untuk tidak bersama. Bukankah yang terpenting saling melengkapi?"

Begitu kata-kata Dirandra kerap memaksa Tamara begitu naif mencintai lelaki itu atau memang dirinya yang bodoh.


Kegalan pernikahan pertama Tamara sebelumnya membuat hatinya rapuh mudah patah. Lebih sakit lagi karena Tamara terpisah dengan putra semata wayangnya.


Mengenal Dirandra merupakan anugerah karena membuat hidupnya lebih 'bungah' sekaligus musibah karena keadaan tidak tepat.


Memahami kekosongan yang muncul dengan mengingat masa lalunya, Tamara menemukan keterkejutan yang luar biasa.

Sebuah karya dari Dirandra membuat jantungnya berhenti sebentar, nafasnya tercekat.

"Taukah kamu apa yang paling menyiksaku dipenghujung hari? Adalah angin dingin tanpa kabar hangatmu. Dadaku mengaduh, tertusuk.

Angin pun mulai mengalunkan simponinnya menjadi layu, tidak lagi merdu.

Kamu dan aku yang pernah disebut kita kembali terdengar. Membuat jemariku tidak letih menulis prosa tentang kita.

Ketika itu, kadang kubiarkan saja kamu bicara sendiri tanpa peduli apa yang kamu katakan. Sebuah cerita malam hingga pagi dan sedikit nyanyian setelahnya.

Aku membiarkan diriku dalam rindu. Sebab keteduhan yang kamu berikan adalah penyemangat hidup. Mengubah duka menjadi tawa. Terimakasih kamu telah membahagiakanku."



Tamara tergugu mengingat Dirandra. Angin siang masuk lewat jendela menampar-nampar wajahnya yang gelisah. Mempermainkan anak rambutnya hingga jatuh menutupi dahi.

Matanya basah. Seluruh hidupnya terasa hilang dan menjadi kenangan yang terindah sekaligus pahit mengasyikan. Perlahan suara nada dering dari ponsel Tamara terdengar

"Gimana kabarnya, Dek?"

Sebuah suara Dirandra menyapa diujung telepon.

"Gak baik, sangat buruk, Mas."
"Kok bisa, Dek?"
"Ya bisalah. Mas diajak ketemuan aja tarik ulur seperti layangan putus. Aku kangen, Mas! Paham?"
"Enggak paham, Dek. Untuk apa paham ma orang gak peka."
"Mas, aku datang ke Jakarta, ya? Datang ke rumah mas."
"Jom datang aja ke rumah, adek udah tau 'pun alamatnya."
"Mas takut ya, aku datang ke Jakarta?"
"Enggak, Dek."
"Yakin? "

Tamara dan Dirandra tenggelam dalam percakapan saling menggoda. Apakah Tamara akan datang ke Jakarta menemui Dirandra? Next 

Daftar Isi Cerbung Romantis 


Baca selengkapnya:  INDEKS LINK 

Post a Comment for "Terjebak Kenangan Janda Muda, Episode 5"